MK
EKONOMI SUMBERDAYA LAHAN (ESL 222 )
RUMAH
SUSUN BERKONSEP URBAN FARMING, SOLUSI
KEPADATAN PENDUDUK DI JAKARTA
Oleh :
1. Ronny Josua L. (H44120064)
2. Anisa Rumawar S. (H44120044)
3. Astrid Damarin Nur A. (H44120089)
4. Alifthya Putrie H. (H44120094)
5. Ika Putri Rahmadani (H44120037)
Dosen : Ir. Nindyantoro, M.SP

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Jawa merupakan salah satu pulau
yang maju dibanding pulau lainnya di Indonesia. Jumlah dan peningkatan penduduk di Jawa pun lebih tinggi dari pulau
lainnya. Tingkat penduduk paling tinggi berada di Ibukota Indonesia yaitu DKI Jakarta. Bagi kebanyakan orang, Jakarta
adalah kota dimana kita dapat memperoleh apapun yang kita mau termasuk
kesejahteraan. Hal itu benar karena Jakarta termasuk kota yang maju di
Indonesia. Namun, pemikiran tersebut tidak selalu membawa keuntungan
tersendiri.
Peningkatan jumlah penduduk
Jakarta selalu mengalami peningkatan. Tahun 2010 jumlah penduduk Jakarta
mencapai 9,6 juta jiwahal ini mengacu pada peningkatan demand lahan
pemukiman di DKI Jakarta. Pembangunan perumahan raksasa pun tidak dapat
dihindari yang mengakibatkan menyempitnya sisa lahan hijau di DKI Jakarta.
Harga tanah dari tahun ke tahun meningkat sangat tajam sejalan dengan
peningkatan jumlah pemukiman yang dibentuk. Penyempitan jumlah lahan akibat
tinggi demand lahan pemukiman menjadi malapetaka bagi masyarakat itu sendiri,
bencana banjir pun tidak dapat dihindari dengan mudah.
Pemerintah DKI Jakarta tidak
tinggal diam untuk menyelesaikan masalah kepadatan penduduk ini. Pemerintah
mencoba melakukan penggusuran dibeberapa daerah untuk meningkatkan RTH di DKI
Jakarta dan peningkatan kenyamanan yang sebelumnya tergangu oleh pembangunan
pemukiman illegal seperti rumah dibantaran sungai. Pemerintah memberikan
insentif berupa pembangunan Rumah Susun dengan bergaya Urban Farming.
Dengan ide ini diharap dapat membebaskan
beberapa lahan dan mengembalikan fungsi hijaunya serta meningkatkan kenyamanan
beraktivitas di kota.Tren eco-friendly yang digaungkan sejak beberapa
tahun lalu, kini makin mengejawantah di tengah masyarakat. Para pecinta
lingkungan pun melakukan beragam kegiatan kongkret guna mengurangi efek
pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim yang terasa belakangan
ini. Salah satunya lewat pertanian kota alias Urban
Farming.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi lahan dan tekanan penduduk di Jakarta ?
2. Bagaimana langkah penyelesaian dari demand lahan terhadap tekanan penduduk di Jakarta ?
3. Apakah inovasi rumah susun berkonsep Urban Farming efektif untuk menyelesaikan masalah kepadatan penduduk di Jakarta ?
1.3 Tujuan
Penulisan
1.
Untuk mengetahui kondisi lahan dan tekanan penduduk di Jakarta.
2. Untuk mengetahui langkah penyelesaian dari demand lahan terhadap tekanan penduduk di Jakarta.
3. Untuk mengetahui inovasi rumah susun berkonsep Urban Farming efektif untuk menyelesaikan masalah kepadatan penduduk di Jakarta.
1.4 Landasan
Teori
Menurut FAO, lahan diartikan sebagai tempat
di permukaan bumi yang sifat-sifatnya layak disebut seimbang dan saling
berkaitan satu sama lain, memiliki atribut mulai dari biosfer atmosfer, batuan
induk, bentuk-bentuk lahan, tanah dan ekologinya, hidrologi, tumbuh-tumbuhan,
hewan dan hasil dari aktivitas manusia pada masa lalu dan sekarang yang
menegaskan bahwa variabel itu berpengaruh nyata pada penggunaan manusia saat
ini dan akan datang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
istilah lahan bararti tanah terbuka, tanah garapan. Lahan diartikan sebagai
suatu tempat terbuka di permukaan bumi yang dimanfaatkan oleh manusia, misalnya
untuk lahan pertanian, untuk membangun rumah, dan lain-lain.
Penggunaan sumber daya lahan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok
manfaat dan peranan, yaitu (M. Ardi, dkk : 274) lahan digunakan untuk tempat
tinggal, berusaha, bercocok tanam, dan tambak ikan; Lahan sebagai kawasan hutan
yang menopang kehidupan vegetasi satwa liar; serta Lahan sebagai daerah
pertambangan yang bermanfaat bagi manusia. Besarnya manfaat dan pentingnya
peran lahan menyebabkan sering terjadi
konflik kepentingan dalam penggunaannya. Namun, bagaimana manusia dapat
memanfaatkan dengan baik sumber daya tanah berupa lahan secara seimbang sesuai
dengan potensi dan kebutuhannya.
Selain itu, Permintaan
terhadap lahan dipengaruhi
oleh banyak faktor
seperti adat dan kebiasaan, pendidikan,
budaya, pendapatan, preferensi,
tujuan individu dan
lain-lain. Akan tetapi, faktor
yang paling penting yang mempengaruhi permintaan agregat (pasar) terhadap lahan
adalah jumlah penduduk. Penduduk
memerlukan kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi, pemukiman, pangan,
serat, dan lain-lain.
Semua kebutuhan itu berkaitan dengan penggunaan lahan.
Dengan semakin banyaknya penduduk, semakin banyak pemukiman
diperlukan, semakin banyak
pangan harus diproduksi,
semakin banyak fasilitas
publik yang harus
dibangun, dan semuanya
memerlukan lahan. Dengan
alasan tadi, permintaan
akan lahan untuk
masing-masing penggunaan juga semakin
tinggi, sehingga konversi lahan
dari satu penggunaan ke penggunaan
lainnya menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan.
PEMBAHASAN
2.1 Kondisi Lahan dan Tekanan Penduduk di
Jakarta
Menurut Badan Pusat Statistik
pada tahun 2010, penduduk provinsi DKI Jakarta berjumlah
9.607.787 jiwa dengan laju pertumbuhan 1,41 per tahun. Sedangkan luas wilayah
DKI Jakarta sebesar 604 km2 dengan tingkat kepadatan penduduknya
sebesar sekitar 15.000 jiwa per km2. Data tersebut menjadikan
provinsi DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penduduk terpadat dibandingkan
dengan provinsi lainnya. Tingkat kepadatan penduduk yang sangat besar menjadi
salah satu penyebab semakin cepatnya pembangunan fisik terjadi. Banyak penduduk
yang semakin membutuhkan bangunan fisik untuk tempat tinggal, bekerja, dan
melakukan aktivitas lainnya.
Pembangunan di Jakarta dalam
beberapa dekade ini menunjukkan perubahan yang drastis. Lahan yang ada di
Jakarta hampir habis digunakan oleh sektor pemukiman, bisnis, dan industri.
Oleh karena itu saat ini luas lahan yang tersisa di DKI Jakarta tinggal 30
persen saja. Pemerintah pun kini harus mengoptimalkan sisa lahan yang ada dan
menghentikan pembangunan bangunan – bangunan
besar agar pembangunan yang dilakukan pemerintah tidak membawa dampak buruk di
masa yang akan datang.
Dari
Hasil Sensus Penduduk 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik kepadatan
tertinggi ada di Jakarta Pusat yang mencapai 18,6 ribu jiwa/km². Berikut
tabel kepadataan penduduk per wilayah di Jakarta tahun 2010
|
Kabupaten/Kota
|
Kepadatan Penduduk (km²)
|
|
Kepulauan
Seribu
|
2,423.47
|
|
Jakarta Selatan
|
14,554.35
|
|
Jakarta
Timur
|
14,304.25
|
|
Jakarta
Pusat
|
18,688.72
|
|
Jakarta
Barat
|
17,663.17
|
|
Jakarta Utara
|
11,963.62
|
|
Total DKI Jakarta
|
14,694.55
|
Sumber : BPS, 2010
Tingginya angka kepadatan penduduk berarti laju
penduduk tinggi namun luas wilayah tidak dapat memadai kebutuhan. Salah satunya
adalah kebutuhan tempat tinggal. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh
Direktorat Pengembangan Permukiman, Ditjen Cipta Karya tahun 2006 diketahui
bahwa kebutuhan rumah mencapai 800 ribu unit per tahun. Sedangkan kemampuan
penyediaan rumah hanya mencapai 20% dari total kebutuhan rumah, bahkan sampai
tahun 2000 masih terdapat 4.338.862 jiwa rumah tangga yang belum memiliki
rumah, dimana 70% diantaranya merupakan masyarakat kelas bawah. Berdasarkan
penelitian The World Bank di tahun 2003, kurang lebih 20-25% dari penduduk
Jakarta tinggal di perkampungan, dimana 4-5% tinggal secara ilegal dipinggiran
kali, tanah kosong, dan sebagainya.
2.2 Langkah Penyelesaian dari Demand Lahan-Tekanan Penduduk di
Jakarta
Tempat tinggal adalah salah satu
kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi guna menjamin kelangsungan hidup.
Melihat data – data yang telah disebutkan, sangat sulit bagi warga Jakarta
untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal. Hal itu disebabkan keterbatasan lahan.
Oleh karena itu tidak salah muncul ide untuk membuat pemukiman yang bentuknya
vertikal agar dapat dicapai pemanfaatan lahan yang efisien dan optimal dan
peremajaan kota bagi daerah yang kumuh. Pemukiman tersebut sering kita kenal
dengan sebutan rumah susun (Rusun), salah satu langkah mengatasi laju tingginya
penduduk.

Gambar 1. Salah satu rumah susun di Jakarta
Rumah susun dibuat oleh
pemerintah bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Dengan keberadaan
rumah susun ini masyarakat kelas menengah ke bawah dapat memperoleh akses
terhadap perumahan yang sehat dan layak huni. Ditambah
lagi, Pemerintah DKI Jakarta memiliki
misi untuk menjamin ketersedian hunian dan ruang publik yang layak serta
terjangkau bagi warga kota dan ketersediaan pelayanan kesehatan dengan program
kerja unggulan mendorong warga pindah ke hunian vertikal, dengan membangun super
blok one stop living yang terdiri dari hunian vertikal (rumah
susun), ruang publik berupa taman, pasar, dan pusat layanan kesehatan untuk warga
kelas menengah bawah.
Berdasarkan peraturan pemerintah, karakteristik rumah
susun di Indonesia memiliki ketetapan standar sebagi berikut (Teddy, 2010 : 11)
:
1. Satuan Rumah Susun
Mempunyai ukuran standar minimum 18 m², lebar muka minimal
3 meter. Dapat terdiri dari satu ruang utama (ruang tidur) dan ruang lain(ruang
penunjang) di dalam dan/atau diluar ruang utama. Dilengkapi dengan sistem
penghawaan dan pencahayaan buatan yang cukup, sistem evakuasi penghuni yang
menjaminkelancaran dan kemudahan, serta penyediaan daya listrik yang cukup,
serta sistem pemompaan air. Batas pemilikan satuan rumah susun dapat berupa
ruang tertutup dan/atau sebagian terbuka dan/atau ruang terbuka.
2. Benda Bersama
Benda bersama dapat berupa prasaran lingkungan dan
fasilitas lingkungan.
3. Bagian Bersama
Bagian bersama dapat berupa ruang untuk umum,
struktur, dan kelengkapan rumah susun, prasarana lingkungan dan fasilitas lingkungan
yang menyatu dengan bangunan rumah susun.
4. Prasarana Lingkungan
Prasarana lingkungan berupa jalan setapak, jalan
kendaraan sebagai penghubung antar
bangunan rumah susun atau keluar lingkungan rumah susun, tempat parkir,
utilitas umum yang terdiri dari jaringan air limbah, sampah, pemadam
kebakaran,listrik, gas, telepon, dan alat komunikasi lainnya.
5. Fasilitas Lingkungan
Lingkungan rumah susun harus dilengkapi fasilitas
perniagaandan perbelanjaan, lapangan tebuka, kesehatan, pendidikan, peribadatan,
pelayanan umum, serta pertanaman.
Berikut tabel perutukan luas lahan rumah susun
|
Jenis peruntukan
|
Luas Lahan
|
|
|
Maksimum (%)
|
Minimum (%)
|
|
|
Bangunan untuk hunian
|
50
|
-
|
|
Bangunan fasilitas
|
10
|
-
|
|
Ruang terbuka
|
-
|
20
|
|
Prasarana Lingkungan
|
-
|
20
|
Sumber : Standar Nasional Indonesia (2003)
Keterbatasan lahan yang telah
menjadi masalah utama bagi penduduk Jakarta juga membuat masyarakat menjadi
semakin gelisah. Tingkat polusi kota yang semakin meningkat, ruang terbuka
hijau yang semakin berkurang karena pembangunan bangunan – bangunan besar untuk
kepentingan bisnis dan industri, penggunaan lahan dirasa tidak adil karena
hanya golongan – golongan atas saja yang bisa memanfaatkan lahan demi
kepentingan, serta masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah sebagian besar
tidak memiliki keterampilan yang cocok untuk bekerja di daerah ibukota.
Masyarakat golongan ini sebagian besar hanya memiliki keterampilan
bertani atau bercocok tanam yang baik karena sebagian besar dari mereka berasal
dari wilayah pedesaan dimana kegiatan bercocok tanam sangat mudah dilakukan.
Tentu saja untuk bekerja dengan kegiatan tersebut hampir mustahil dilakukan di
daerah seperti Jakarta. Untuk mendirikan tempat tinggal saja sulit, apalagi
menemukan lahan kosong untuk melakukan kegiatan bercocok tanam di kota
Megapolitan seperti Jakarta.
Dewasa ini telah ditemukan solusi untuk
menyelesaikan masalah yang timbul akibat keterbatasan lahan dan memungkinkan
terselenggaranya kegiatan bercocoktanam atau kegiatan lain yang berhubungan
dengan pertanian di daerah Jakarta. Solusi tersebut bernama Urban Farming. Urban Farming merupakan konsep berkebun di tengah perkotaan dengan
menggunakan teknologi tertentu. Konsep ini tentu merupakan jawaban atas semakin
sempitnya lahan untuk bercocoktanam di kota – kota besar, salah satunya adalah
Jakarta. Kegiatan Urban Farming
mencakup kegiatan produksi, distribusi, hingga pemasaran produk – produk
pertanian yang dihasilkan.
Urban
Farming telah dinilai sebagai kegiatan yang sangat menguntungkan. Banyak
dampak positif yang bisa timbul dari
kegiatan tersebut. Permasalahan keterbatasan lahan bukan lagi menjadi
penghalang. Urban Farming dapat
dilakukan dengan lahan yang sangat sempit. Kegiatan Urban Farming dapat memberikan penghasilan tambahan bagi warga
Jakarta yang menggemari atau memiliki keterampilan di bidang pertanian
khususnya bercocoktanam. Bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah hal ini
menjadi kabar gembira. Pasalnya mereka mampu meningkatkan penghasilan mereka
dengan bercocok tanam tanpa harus memperdulikan persoalan lahan karena Urban Farming tak memerlukan lahan yang luas. Bahkan Urban Farming mampu dilakukan oleh
masyarakat kelas menengah-bawah di rumah susun mereka.

Gambar 2. Urban
Farming di Amerika Serikat
Urban
Farming dinilai sangat tepat bila dilakukan di rumah susun. Penghuni rumah
susun bisa mendapatkan manfaat secara langsung dari Urban Farming, dengan langsung mengambil hasil bercocok tanam
sebagai bahan pangan dan bisa untuk dijual lagi untuk menambah penghasilan.Urban Farming akan difokuskan
pelaksanaannya di rumah susun dimana sebagian besar penghuninya masih
berpenghasilan rendah. Rumah susun pertama yang akan dijadikan percontohan
adalah Rumah Susun Marunda di Cilincing, Jakarta. Tanaman yang akan ditanami
adalah tanaman bahan pangan seperti sawi, pakcoy, kangkung, selada, dan tomat.
Sayuran akan ditanami dengan teknik hidroponik.

Gambar 3. Contoh penerapan Urban Farming di
rumah susun
Urban
Farming juga memiliki keuntungan
lain seperti mengurangi efek pemanasan global yang berdampak pada perubahan
iklim serta menjadi salah satu sarana
untuk menambah ruang terbuka hijau di Jakarta. Seperti sekarang yang sangat
sedikit lahan digunakan untuk ruang terbuka hijau, membuat suasana dan kondisi
kota Jakarta semakin gersang dan panas. Pelaksanaan Urban Farming di atap apartemen atau rumah susun akan meningkatkan
ruang terbuka hijau di Jakarta. Selain itu Urban
Farming dapat menjadi sarana bagi
penduduk kota Jakarta untuk refreshing
dan rekreasi setelah berlama – lama menjalani rutinitas yang ada.
Selain itu, Program Urban Farming
ini memberikan pelatihan kepada warga rusun untuk mengelola budidaya dan
pertanian di lingkungan mereka. Seperti budidaya lele serta bercocok tanam
berbagai macam sayur mayur. Pembuatan rumah
pembibitan tanaman ini merupakan bentuk dana corporate
social responsibility (CSR)
dari salah satu perusahaan swasta dengan biaya sekitar Rp 250 juta. Tujuan
dari Urban Farming ini dimana
khalayak sasaran dapat menggunakan lahan yang ada didalam rumah untuk
menciptakan ruang hijau
disekeliling mereka. Kegiatan Urban Farming ini tentunya sangat mudah dilakukan, karena dapat
memanfaatkan sekecil apapun lahan yang ada dan benda apapun sebagai media tanam,
sehingga Urban Farming tentunya dapat
dilakukan dengan hemat, menyenangkan, dan mengisi waktu dengan hal yang
berguna.
2.3 Keefektivan Inovasi Rumah Susun Berkonsep Urban Farming
Sering dengan pembangunan rumah susun berkonsep Urban Farming, dilihat
dari kondisi yang ada, sudah memperlihatkan dampak positif dan bernilai cukup efektif untuk kondisi Jakarta yang setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang selalu meningkat bersamaan juga dengan meningkatnya permintaan terhadap lahan.
Dibandingkan dengan konsep perumahan, rumah susun jauh lebih efektif karena hanya memerlukan lahan lebih sedikit dibandingkan dengan lahan perumahan. Selain itu, rumah susun juga dapat menampung lebih banyak keluarga dalam satu bangunan, menghemat lahan,
tempat, material, dan pembebasan lahan sekitar, serta meminimalkan kerusakan
lingkungan.
Rumah susun berkonsep Urban Farming ini dinilai sangat cocok diterapkan di Jakarta dengan harapan dapat meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Urban Farming ini adalah suatu konsep dimana kita dapat tetap bercocoktanam dengan memanfaatkan lingkungan pekarangan bahkan dapat dilakukan didalam ruangan. Selain itu, pemerintah menerapkan konsep ini agar masyarakat dapat membiasakan hidup ramah lingkungan yang memungkinkan tambahan pendapatan serta menambah udara segar pada lingkungan
sekitar mereka.
KESIMPULAN
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi demand lahan, namun faktor yang paling penting yang mempengaruhi
permintaan agregat (pasar) terhadap lahan adalah jumlah penduduk. Semakin tinggi jumlah penduduk maka akan memerlukan lahan yang semakin luas terutama untuk kebutuhan tempat tinggal. Kebutuhan lahan untuk permukiman di DKI Jakarta meningkat 5-10 % setiap tahun sedangkan kebutuhan rumah 800 unit per tahun. Semakin sempitnya lahan membuat harga lahan di Jakarta melambung tinggi. Salah satu cara penyelesaian masalah tersebut adalah dengan membangun rumah susun berkonsep Urban Farming. Selain dapat menghemat biaya dan jumlah lahan yang digunakan, dapat juga meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan, menambah udara segar, mengurangi pemukiman
kumuh serta meningkatkan biaya tambahan akibat kegiatan bercocok tanam.
DAFTAR PUSTAKA
[Anonim].
2013. Program Urban Farming pada Konsep Rumah Susun di Jakarta.
Dewi Tiena. 2013. Pengertian Tanah danLahan.
terima kasih atas informasinya
BalasHapus