MK EKONOMI
SUMBERDAYA LAHAN (ESL 222 )
ANALISIS FAKTOR
PENYEBAB DAN DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN PINGGIRAN KOTA
TEMBALANG, SEMARANG
Oleh :
1.
Astrid Damarin Nur A. (H44120089)
2.
Anisa Rumawar S. (H44120044)
3.
Alifthya Putrie H. (H44120094)
4.
Ika Putri Rahmadani (H44120037)
5.
Ronny Josua L. (H44120064)
Dosen : Ir.
Nindyantoro, M.SP

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN
LINGKUNGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kecenderungan pengembangan
pertumbuhan penduduk mengarah pada wilayah pinggiran kota sebagai akibat
perluasan aktivitas kota. Kini daerah pusat kota sudah tidak mampu lagi
menampung desakan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Pertambahan penduduk
yang terus meningkat mengindikasikan bahwa perkembangan penduduk menyebar ke
arah pinggiran kota (sub-urban) sehingga sebagai konsekuensinya adalah terjadi
perubahan guna lahan perkotaan. Untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan digunakanlah
tanah pertanian untuk pembangunan perumahan. Pembangunan perumahan baik yang
diusahakan oleh pihak swasta maupun oleh perseorangan untuk pemenuhan akan
kebutuhan rumah tinggal. Hal ini biasanya terjadi di kota-kota besar misalnya
Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Semarang.
Di Semarang, di sekitar kampus Universitas
Diponegoro (UNDIP) -Tembalang terdapat
empat kelurahan yakni Kelurahan Tembalang, Kelurahan Pedalangan,
Kelurahan Sumurboto dan Kelurahan Bulusan. Secara geografis keempat kelurahan
tersebut bercorak agraris, penduduk di kawasan tersebut pada umumnya
memanfaatkan lahan mereka untuk aktivitas pertanian. Namun pada sekitar tahun
1987-an ketika UNDIP membangun kampusnya di wilayah Tembalang, terjadi
pergeseran dalam aktivitas pemanfaatan lahan di sekitar kampus UNDIP Tembalang.
Lahan-lahan pertanian berubah fungsi menjadi lahan perdagangan dan jasa untuk
melayani para pendatang yakni mahasiswa dan aparat birokrasi UNDIP.
Perubahan fungsi lahan yang semula untuk aktivitas agraris ke aktivitas
perdagangan dan jasa memberikan pengaruh yang beragam. Dari sisi pendapatan,
kehadiran kampus UNDIP menjadi pusat pertumbuhan ( growth pole ) yang
memberikan kontribusi dalam peningkatan aktivitas perekonomian di kawasan
sekitar kampus UNDIP-Tembalang. Melonjaknya harga tanah akibat tingginya
permintaan di bandingkan penawaran merupakan konsekuensi logis dari hukum
permintaan dan penawaran (supply and demand) yang memberi keuntungan berupa
peningkatan nilai jual maupun nilai asset masyarakat berupa tanah dan bagunan
baik untuk dijual ataupun disewakan sebagai tempat kost.
1.2 Rumusan Masalahh
a. Bagaimana kondisi lahan daerah Tembalang sebelum dibangunnya Universitas
Diponegoro (UNDIP )?
b. Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan daerah Tembalang?
c. Bagaimana perbandingan perkembangan daerah Tembalang saat ini
dengan sebelum dibangunnya UNDIP ?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui kondisi daerah Tembalang sebelum dibangunnya
Universitas Diponegoro (UNDIP.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
daerah Tembalang.
c. Untuk membandingkan keadaan Tembalang sebelum dan sesudah
dibangunnya UNDIP.
1.4 Landasan Teori
Land rent adalah penerimaan bersih yang diterima dari sumberdaya lahan.
Menurut (Heady dan Jensen, 2001) penggunaan lahan paling efisien secara ekonomi
adalah hasil maksimal yang dapat diperoleh dari tingkat penggunaan lahan.
Tujuan ini dapat dicapai dengan mengalokasikan lahan bagi penggunaan yang
mempunyai nilai lebih atau surplus (rent) dari satuan lahan (marginal
unit), dari berbagai keperluan yang bersaing diantara berbagai alternatif
penggunaan lahan. Lahan yang mempunyai nilai land rent yang lebih tinggi
relatif lebih mudah menekan dan mengkonversi penggunaan lahan dengan nilai land
rent rendah. Berdasarkan definisinya nilai land rent adalah hasil
bersih (ouput) dikurangi dengan biaya (input) dan pajak lahan.
Konversi
lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari
fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang menjadi
dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan. Konversi lahan
juga dapat diartikan sebagai perubahan untuk penggunaan lain disebabkan oleh
faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi
kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan
akan mutu kehidupan yang lebih baik. Irawan (2005) mengemukakan bahwa konversi
lahan lebih besar terjadi pada lahan sawah dibandingkan dengan lahan kering
karena dipengaruhi oleh tiga faktor, pertama, pembangunan kegiatan non
pertanian seperti komplek perumahan (real estate), pertokoan,
perkantoran, dan kawasan industri lebih mudah dilakukan pada tanah sawah yang
lebih datar dibandingkan dengan lahan kering. Kedua, akibat pembangunan
masa lalu yang terfokus pada upaya peningkatan produk padi maka infrastruktur
ekonomi lebih tersedia di daerah persawahan daripada daerah tanah kering. Ketiga,
daerah persawahan secara umum lebih mendekati daerah konsumen atau daerah
perkotaan yang relatif padat penduduk dibandingkan daerah tanah kering yang
sebagian besar terdapat di wilayah perbukitan dan pegunungan. Sebagai
konsekuensi logis dari pertambahan penduduk dan pembangunan ekonomi, maka
terjadi perubahan alokasi sumberdaya, khususnya sumberdaya lahan sulit
dihindari.
Pemerintah, atau untuk lahan tempat
tinggal pemilik lahan yang bersangkutan). Proses konversi lahan sawah cenderung
berlangsung lambat jika motivasi untuk mengubah fungsi terkait dengan degradasi
fungsi lahan sawah, misalnya akibat kerusakan jaringan irigasi sehingga lahan
tidak dapat difungsikan lagi sebagai lahan sawah (Gunanto, 2007).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kondisi Daerah
Tembalang Sebelum Dibangunnya UNDIP
Berdirinya Universitas Diponegoro (UNDIP) tahun 1956 membawa
perubahan yang cukup besar bagi Kota Semarang, fokusnya adalah wilayah
Tembalang. Sebelumnya daerah tembalang dikenal dengan daerah yang letaknya
terpencil dan cukup jauh dari pusat kota. Namun pada
sekitar tahun 1987-an ketika UNDIP membangun kampusnya di wilayah tersebut,
terjadi pergeseran dalam aktivitas pemanfaatan lahan di sekitar kampus UNDIP
Tembalang.
Sebelum adanya Universitas Diponegoro, kawasan Tembalang
termasuk kawasan yang kurang diminati oleh masyarakat, sehingga dianggap daerah
terbelakang. Lebih banyak masyarakat yang pindah ke selatan Semarang ini
memilih tinggal di Ngesrep Barat daripada Tembalang dan Ngesrep Timur. Sebagian
besar hanya terdapat sawah dan tegalan. Jarang sekali terdapat rumah penduduk
disana, bahkan harga tanah per meter perseginya hanya 10.000 rupiah dan
jalannya pun hanya selebar 2,5 meter.
Dahulu, penerangan dan keamanan yang ada di kawasan tersebut
juga sangat minim, sehingga banyak kelompok-kelompok preman yang melintasi
daerah tersebut dengan menggunakan senjata tajam. Secara administratif,
Tembalang mengalami pengembangan wilayah hingga tiga kali. Pada 1970-an, Tembalang
merupakan salah satu desa di Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Setelah
pemekaran wilayah pada 1980-an, menjadi salah satu kelurahan di wilayah
Kecamatan Banyumanik.
Dengan lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota, dahulu
kawasan ini hanyalah sebatas hutan belantara dan hamparan padi di sekitarnya.
Hal ini mengakibatkan harga sewa lahan di kawasan tersebut tidak cukup tinggi.
Sehingga penghasilan daerah hanya bergantung pada lahan persawahan yang
notabennya sangat bergantung pada kondisi alam.
2.2
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Harga Lahan
Kawasan
Tembalang telah mengalami banyak perubahan yang berarti dari waktu ke waktu.
Dengan berdirinya perguruan tinggi seperti Universitas Diponegoro dan
Universitas Negeri Semarang maka banyak hal baru yang datang ke daerah
tersebut. Pembangunan suatu perguruan tinggi yang merupakan suatu pusat
pendidikan di suatu lahan atau daerah akan membawa dampak besar terhadap
perekonomian masyarakat setempat bahkan sampai ke bidang sosial dan budaya.
Sebelumnya
sebagian besar lahan luas yang terdapat di daerah Tembalang adalah lahan
pertanian. Banyak penduduk setempat yang menggantungkan nasib pekerjaannya
terhadap kesuburan lahan disana. Namun seiring waktu berjalan dengan berdirinya
salah satu perguruan tinggi ternama Indonesia di lahan tersebut, maka hal itu
juga mengubah pekerjaan masyarakat setempat. Secara perlahan dengan adanya
kampus – kampus tersebut maka semakin banyak bermunculan usaha – usaha yang
menyediakan fasilitas bagi para mahasiswa yang bertempat tinggal sementara di
daerah tersebut. Selain itu berdirinya kampus – kampus tersebut juga turut
mengubah harga lahan yang ada disekitar lokasi berdirinya kampus. Semakin dekat
suatu lahan dengan suatu lokasi yang menjadi daya tarik orang, semakin tinggi
harga lahan tersebut.
Harga
lahan yang ada di daerah Tembalang memang mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Untuk tahun 2011 harga lahan di kawasan tersebut naik dari Rp 3 juta /m2
menjadi Rp 4,5 juta. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi harga lahan yang
dapat kita gali secara lebih dalam dari dampak pembangunan yang ada di kawasan
Tembalang. Faktor yang pertama adalah faktor fasilitas. Fasilitas yang dimaksud
adalah fasilitas seperti perguruan tinggi. Dengan berdirinya Undip kawasan
Tembalang jadi incaran untuk berbisnis dan bertempat tinggal sehingga harga
lahan yang ada di masing – masing daerah menjadi naik.

Gambar 1.Harga
Penawaran Lahan sesuai dengan jarak terhadap Undip
Faktor
yang kedua adalah faktor aksesibilitas. Sebelum ada Undip akses jaringan jalan
hanya selebar 2 sampai 2,5 meter saja. Namun setelah Undip berdiri maka lebar
jalan menjadi 8 meter. Angkutan umum pun tersedia berupa angkot dan bis kota.
Akhir – akhir ini keadaan Universitas Diponegoro dan sekitarnya telah menjadi
pusat aktivitas warga Tembalang. Hal inilah yang menyebabkan kondisi
aksesibilitas kawasan dekat Undip cukup baik.
Faktor ketiga adalah faktor ketersediaan. Keberadaan
Undip di daerah Tembalang membawa dampak yang besar. Semakin terkenalnya Undip
di skala pendidikan nasional maka semakin banyak juga anak – anak muda yang
datang dari berbagai daerah ke daerah Tembalang. Lebih dari 19.000 mahasiswa
datang ke Undip. Hal inilah yang menyebabkan permintaan lahan di kawasan
tersebut semakin tinggi namun lahan yang tersedia juga sedikit.
2.3 Perbandingan Perkembangan Daerah Tembalang Saat ini dengan Sebelum
dibangunya UNDIP
Perkembangan
daerah Semarang Kecamatan Tembalang saat ini berbeda jauh
dengan sebelum dibangunya UNDIP. Sebelum dibangunnya UNDIP, di daerah sekitar
kecamatan Tembalang dipenuhi dengan lahan sawah serta tegalan milik para petani
sekitar. Namun, setelah dibangunya UNDIP lahan sawah milik petani ini berahli
fungsi menjadi lahan perumahan, kos-kosan serta banyak kios-kios baru yang
dibangun sekitar kampus UNDIP ini.
Lahan sawah
di daerah Tembalang pada umumnya
memiliki land rent yang lebih rendah serta hasil dari produksi pertanian yang
tidak menentu dan kemungkian gagal panen yang
selalu ada dalam proses produksi. Hal ini, memicu para petani untuk
memanfaatkan lahan mereka dengan mengganti pengguanan lahan yang memiliki land rent yang lebih tinggi. Pemikiran ini di dukung dengan
pembangunan kampus UNDIP di daerah Tembalang karena dengan dibangunya kampus UNDIP ini
akan meningkatkan permintaan lahan di sekitar kawasan kampus. Permintaan lahan
yang meningkat ini mengakibatkan harga lahan yang meningkat, serta keadaan
kawasan yang ramai dengan aktifitas yang dilakukan oleh mahasiswa.
Lahan sawah ini berahli fungsi menjadi perumahan kerena
lahan lebih efektif bia dijadikan lahan perumahan , serta lahan perumahan memiliki land rent yang lebih tinggi dan
lebih menguntungkan dibangdingkan
dengan lahan sawah. Ini semua sesuia dengan konsep land rent yang
mana lahan yang mempunyai land
rent yang lebih tinggi relatif lebih mudah menekan dan mengkonversi penggunaan
lahan dengan nilai land rent yang lebih rendah. Selain itu, dengan
dibangunnya kampus UNDIP di daerah
Tembalang ini mengakibatkan banyak penduduk
pendatang yang masuk ke daerah Tembalang. Dengan demikian
tidak dapat dipungkirin lahan sawah di daerah Tembalang banyak yang berahli
fungsi menjadi lahan perumahan karena permintaan akan tempat tinggal meningkat seiring dengan bertambahnya
jumlah penduduk didaerah Tembalang.
BAB III
KESIMPULAN
Daerah Tembalang, Semarang merupakan daerah yang letaknya
terpencil dan cukup jauh dari pusat kota. Kawasan ini kurang diminati oleh banyak masyarakat. Sebagian
besar hanya terdapat sawah, tegalan, dan hutan belantara. Jarang sekali
terdapat rumah penduduk disana. Penerangan dan keamanan yang ada di kawasan
tersebut juga sangat minim. Bahkan harga tanah per meter perseginya sangat
murah, sekitar Rp10.000. Hal ini
mengakibatkan harga sewa lahan di kawasan tersebut tidak cukup tinggi. Sehingga
penghasilan daerah hanya bergantung pada lahan persawahan yang notabennya sangat
bergantung pada kondisi alam.
Berdirinya sebuah perguruan tinggi, Universitas Diponegoro mengakibatkan terjadinya
pergeseran dalam aktivitas pemanfaatan lahan di sekitar Tembalang. Lahan sawah milik petani ini mulai berahli fungsi. Banyak
bermunculan usaha – usaha yang menyediakan fasilitas bagi para mahasiswa yang
setiap tahun meningkat akan kebutuhan suatu sarana dan prasarana. Seperti
kos-kosan, perumahan, minimarket, kios-kios, lahan parkir, dan sebagainya. Sesuai
dengan teori, Semakin dekat suatu lahan dengan suatu lokasi yang menjadi daya
tarik orang, semakin mudah pula tingkat aksesibilitas suatu daerah, maka semakin
tinggi pula harga lahan tersebut.
Harga
lahan yang ada di daerah Tembalang memang mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Ini dikarenakan faktor permintaan tempat tinggal bagi mahasiswa dan masyarakat
urban, peluang berbisnis, serta aksesibilitas jalan yang semakin mudah.
Perubahan ahli fungsi lahan pertanian ini berdampak besar terhadap perekonomian
masyarakat setempat bahkan sampai ke bidang sosial dan budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Suburban. 2005. Penataan Ruang.
http://www.penataanruang.net/ta/Lapak04/P2/ (Diakses 2014 Maret
3).
Syukron,
Muhammad. 2013. Dari Hutan Belantara, Kini Kos Kosan
http://m.suaramerdeka.com (Diakses : 2014 Maret 3).
LAMPIRAN

Gambar 1. Proses Pembangunan Gambar 2. Areal
pertanian di belakang
Perumahan Kampus UNDIP

Gambar 3. Keberadaan sisa lahan disekitar Kampus UNDIP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar