MK EKONOMI SUMBERDAYA LAHAN (ESL 222 )
STRATEGI
FAKTOR PEMILIHAN LOKASI DALAM PEMBANGUNAN CITRALAND, SURABAYA BARAT
Oleh :
1.
Ika Putri Rahmadani (H44120037)
2.
Anisa Rumawar S. (H44120044)
3.
Ronny Josua L. (H44120064)
4.
Astrid Damarin Nur A. (H44120089)
5.
Alifthya Putrie H. (H44120094)
Dosen : Osmaleli,
S.E.

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan rahmat taufik dan hidayah-Nya sehingga makalah ini
yang berjudul “Strategi Faktor Pemilihan Lokasi dalam Pembangunan Citraland, Surabaya
Barat” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini berisikan tentang pengetahuan mengenai pemilihan lokasi yang tepat dalam
proses pembangunan kegiatan ekonomi serta salah satu developper yang
mengembangkan wilayah di Surabaya bagian Barat. Kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal
sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin
Bogor,
20 April 2014
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Surabaya
adalah ibu kota provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta, dengan jumlah penduduk
metropolisnya mencapai 4 juta jiwa. Kota Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia di
bagian Timur Pulau Jawa.
Surabaya
memiliki potensi yang pesat dalam perkembangan wilayahnya. Selain itu, Surabaya
juga terdapat pemandangan alam yang dapat di kembangkan menjadi wisata alam.
Surabaya juga memiliki kawasan industri
yaitu SIER di daerah rumput yang berkembang cukup pesat. Kegiatan
ekonomi lainnya seperti pusat perbelanjaan yang sangat pesat perkembangannya.
Salah satu keputusan yang sangat penting dalam kegiatan ekonomi adalah
penentuan lokasi kegiatan ekonomi tersebut. Karena lokasi berperan dalam
seberapa jauh kegiatan ekonomi tersebut berlangsung. Selain itu, ada beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi kegiatan ekonomi adalah jumlah penduduk dan akses dengan fasilitas kota.
Menurut
kompas.com Surabaya menempati posisi
ke dua dari enam kota, sasaran investasi perusahaan-perusahaan Real Estate besar di Indonesia. Ciputra
Group merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha Real Estate. Dengan melihat potensi dari daerah Surabaya, Ciputra
berminat menginvestasikan dengan mendirikan kawasan Ciputra World dengan nama
Citraland (The Singapore of Surabaya).
Citraland
( The Singapore of Surabaya) adalah
sebuah kota yang berkembang begitu pesat dengan luas tidak kurang dari 2000 ha.
Citraland adalah sebuah kawasan yang didirikan oleh Ciputra Development atau
biasa disebut Ciputra group. Sebelumnya Citraland dikenal sebagai
kawasan yang gersang, kering, dan tidak produktif. Kawasan ini terletak di
Surabaya bagian Barat dan sekarang Surabaya Barat sudah menjadi kawasan yang
cukup pesat di bandingkan dengan kawasan Surabaya lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Apa saja faktor yang
mempengaruhi pemilihan lokasi Citraland sebagai penunjang dalam kegiatan ekonomi di Surabaya Barat ?
b.
Bagaimana kondisi Surabaya setelah adanya pembangunan Kawasan Citraland ?
1.3 Tujuan Penulisan
a.
Untuk mengetahui faktor yang mempengaruh pemilihan lokasi
Citraland sebagai penunjang kegiatan ekonomi di Surabaya Barat.
b.
Untuk mengetahui kondisi Surabaya
setelah adanya pembangunan Kawasan Citraland.
1.4 Tinjauan Pustaka
Beberapa definisi yang
menjelaskan mengenai teori lokasi. Pertama kali yang mengembangkan teori lokasi
adalah Von Thunen pada tahun 1880, namun teori lokasi ini diperkenalkan secara
utuh oleh Walter Isard pada tahun 1952. Teori lokasi merupakan teori yang dapat
digunakan dalam berbagai bidang seperti bidang geografis dan ekonomi namun pada
awal perkembangannya teori ini lebih mengarah pada bidang geografi daripada
bidang ekonomi. Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau
ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari
sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap
keberadaan berbagai macam usaha atau kegiatan lain baik ekonomi maupun social
(Ibrahim,1998).
Teori lokasi adalah suatu
penjelasan teoritis yang dikaitkan dengan tata ruang dari kegiatan ekonomi. Hal
ini selalu dikaitkan pula dengan alokasi geografis dari sumberdaya yang
terbatas yang pada gilirannya akan berpengaruh dan berdampak terhadap lokasi
berbagai aktivitas baik ekonomi maupun sosial (Nitisemito dan Umar,2004).
Dalam penggunaan sumberdaya lahan,
terdapat dua sifat intrinsik dari sumberdaya
lahan yang penting, yaitu kualitasnya
dan lokasi.
·
Kualitas
Lahan
Kualitas sebidang lahan hanya
dapat didefinisikan secara bermakna dalam hubungannya dengan suatu aktivitas penggunaan
tertentu. Dengan mengambil teladan
penggunaan pertanian, kualitas lahan untuk menghasilkan tanaman tergantung
kepada faktor-faktor seperti iklim, topografi, tipe tanah, dan kesuburan,
semuanya ini mempegaruhi pertumbuhan tanaman dan biaya produksi serta panen.
·
Lokasi
lahan
Teori
tentang penggunaan lahan semula dikembangkan oleh von Thunen pada pertengahan
abad 18, seorang Jerman. Ia mencatat
hasil-hasil dari berbagai jenis tanaman dan melengkapinya dengan upaya-upaya
yang terlibat dalam pengangkutan produks ini, oleh kuda dan kereta, ke pasar
ataupun pusat kegiatan ekonomi. Dengan
mengasumsikan sebuah kota yang terisolir, yang dikelilingi oleh lahan yang
kualitasnya sama, von Thunen berargumentasi bahwa pola-pola konsentris
penggunaan lahan akan terjadi. Lahan di
dekat kota akan digunakan digunakan untuk memproduksi tanaman yang hasilnya
banyak dan voluminous, seperti kayu dan kentang, sedangkan lahan yang jauh dari
pasar akan digunakan untuk memproduksi tanaman ekonomis-tinggi, volumenya kecil,
seperti hasil-hasil peternakan.
\
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi Citraland sebagai penunjang
kegiatan ekonomi di Surabaya bagian barat.
Banyak faktor yang
berpengaruh dalam pemilihan lokasi suatu usaha real estate yang besar, seperti Citraland yang didirikan oleh
Ciputra Development atau biasa disebut Ciputra
group. Dahulu Citraland dikenal sebagai kawasan yang gersang, kering, tidak produktif, serta banyak ladang dan rawa
kini sudah menjadi kawasan yang
cukup pesat di bandingkan dengan kawasan Surabaya lainnya. Faktor – faktor yang menunjang tersebut antara lain :
a. Mendekati konsumen potensial
Dalam lokasi pendirian Citraland
ini, salah satu aspek yang pelu diperhatikan adalah kebutuhan para konsumen
akan suatu sarana dan prasarana yang dapat memenuhi tingkat kesejahteraan dan
kenyamanan yang lebih dibandingkan yang lain.
b. Tingkat kepadatan penduduk
Setiap tahun tingkat kepadatan penduduk Surabaya terus
meningkat. Hal ini ditunjukkan pada data yang diperoleh Badan Pusat Statistik
Surabaya yang menyatakan kepadatan penduduk dari tahun 2000 hingga 2010
meningkat dari angka 7.996 menjadi 8.462. Kepadatan penduduk yang meningkat ini
mengindikasikan bahwa kebutuhan penduduk akan tempat tinggal semakin meningkat.
Hal inilah yang menjadi suatu keuntungan bagi pihak Ciputra Land untuk
mendirikan usaha kawasan real estate
di Surabaya khususnya bagian barat.
c. Tingkat ekonomi
Lokasi dengan mayoritas pendapatan penduduk yang
berpenghasilan menengah ke atas akan memicu pemenuhan
standar hidup yang lebih baik, sehingga membuka peluang penjualan hunian dari perumahan Ciputra Land.
d.
Akses yang mudah
Lokasi usaha yang baik adalah yang mudah dikenali dan mudah
diakses.
e. Tingkat kompetisi
Kawasan Surabaya
Barat yang masih sedikit akses pembangunannya menjadikan tingkat kompetisi
dalam berbisnis semakin kecil, sehingga peluang untuk menjadikan tempat
berbisis semakin terbuka lebar. Jika itu
merupakan
satu-satunya lokasi yang dimiliki, pastikan produk yang ditawarkan memiliki banyak keunggulan dibanding
kompetitor lain.
f. Akses lalu lintas
Sebuah kawasan real
estate yang terdiri dari kawasan perumahan, pertokoan, dan tempat rekreasi
sangat membutuhkan akses lalu lintas yang memadai. Dibutuhkan akses jalan yang
baik dan terjangkau dengan lokasi usaha. Ciputra Land memiliki hal tersebut
dengan memilih lokasi yang memiliki akses West
Radial Road yang dapat mengakses ke berbagai tempat di
Surabaya dengan semakin cepat dan mudah, karena pembangunan Radial
Road menghubungkan Inner dan Outer
Ring Road. Tentunya kawasan
ini akan menjadi kawasan hunian yang sangat strategis.
g. Legalitas
Dalam
pembangunan pun, kelegalitasan kawasan juga sangat penting. Kawasan Citraland yang sudah memperhatikan aspek legal tidak akan berisiko lagi dalam hal perijinan, regulasi
kawasan, serta lingkungan sekitar.
h. Lingkungan sekitar
Selain memperhaikan rencana tata ruang pembangunan Kawasan
Citraland, juga harus memerhatikan keadaan lingkungan sekitar. Lokasi tersebut tidak boleh ada kerusakan atau kerugian yang
ditimbulkan akibat pembangunan dan haruslah tetap
bertanggungjawab terhadap penduduk sekitar.
2.2 Kondisi Surabaya setelah adanya pembangunan Citraland
Surabaya merupakan kota kedua di Indonesia yang sangat maju
pesat pembangunannya, kegiatan ekonomi yang meningkat, serta tingkat kepadatan
penduduk yang cukup tinggi. Selama periode
awal kemerdekaan hingga awal tahun 1990-an, pembangunan kota Surabaya sangat
terkonsentrasi di kawasan tengah/pusat kota. Hal itu mengakibakan kota terasa
semakin padat. Aktivitas masyarakat kota semua terkonsentasi ditengah kota.
Fasilitas-fasilitas seperti perkantoran, sekolah, pertokoan, dan lain
sebagainya semua berpusat di tengah kota. Belum ada pengembangan ke daerah pinggiran kota
(daerah-daerah perbatasan) untuk lebih memperluas ruang gerak masyarakat kota dalam
beraktivitas. Seperti di wilayah Citraland yang banyak ladang, rawa, sawah yang
masih gersang dan kering serta pembangunan rumah yang jarang. Namun di awal tahun 2000 an, mulai terjadi
pengembangan wilayah di daerah pinggiran kota.
Menurut data statistik, harga dasar
tanah di Surabaya pada tahun 1989 untuk jenis
perumahan paling mahal adalah Rp 655.000,00 dan paling murah
Rp. 5.900,00. Seiring dengan
semakin banyaknya pengembangan kawasan perumahan,Surabaya
Barat kemudian menjadi kawasan yang semakin ramai. Harga jual tanah pun menjadi
semakin meningkat. Seperti yang terjadi di tanah daerah pengembangan
Citraland.
Kawasan
Citraland yang terletak di Surabaya Barat kini
mengalami kemajuan perkembangan dengan adanya salah satu developper yang masuk,
Ciputra Group yang memperhatikan unsur lokasi yang baik
untuk kegiatan ekonomi dan juga
meningkatkan unsur lokasi lain yang belum terpenuhi seperti penyediaan fasilitas-fasiltas yang diberikan
oleh citraland seperti hunian
mewah, apartement, taman hiburan, sekolah, mall-mall, tempat rekreasi, arena
golf terbesar dan olahraga, serta fasilitas lainnya. Selain itu juga, Ciputra
Group ini memperhatikan aspek lingkungan sekitar dengan menjadikan ruang lingkup
yang hijau terbuka dan asri, melakukan program penanaman 1000 pohon dan sistem
pembuangan dan pengolahan yang baik.
Sehingga
dari itu semua berdampak pada Surabaya Barat menjadi daerah yang paling
berkembang di Surabaya dalam 10 tahun terakhir. Pembangunan kawasan dilakukan
atas kerjasama pemerintah kota dan pengembang swasta yang didorong oleh
kombinasi input yang mendukung seperti modal, infrastruktur, marketing
facilities, management skills, stabilitas nasional, dan lokasi pengembangan
lahan. Sekarang kawasan Surabaya Barat
menjadi salah satu pusat pemukiman dan perekonomian, taraf hidup masyarakat
menjadi semakin lebih baik, serta akses semakin mudah dan cepat.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam
menentukan suatu lokasi untuk lahan
industri, pertanian, perternakan maupun perumahan harus
melihat beberapa faktor seperti mendekati potensial konsumen, tingkat kepadatan
penduduk, tingkat ekonomi, mudahnya akses, tingkat kompetisi,akses lalu lintas,
legalitas, lingkungan sekitar, tempat, jumlah usaha, serta zona.
Dalam penentuan faktor lokasi untuk
lahan perumahan yang lebih penting dari sekian banyak faktor yang perlu di
perhatikan adalah akses yang mudah,
tingkat
kepadatan penduduk, lingkungan sekitar, serta penghasilan penduduk daerah.
Seperti kasus Citraland dalam menentukan lokasinya, pihak Citraland memanfaatkan potensi daerah yang tidak terlalu baik
yaitu hanya dengan memanfaatkan akses jalan yang baik ke kota, kepadatan
penduduk Surabaya yang nyatanya terbesar kedua di Indonesia, dan keadaan daerah
yang gersang serta kering. Walaupun hanya sedikit potensi yang dimiliki daerah
tersebut, Citraland dapat mengembangkan daerah tersebut dengan menyediakan
potensi-potensi lain yang berguna untuk kegiatan ekonomi lainnya sebangai usaha
yang di kembangkan oleh Ciputra Group. Sehingga dengan didirikannya Citraland ini dapat meningkatkan
perkembangan untuk industri-industri lain dalam membuka usaha di daerah
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Fikriyah. 2013. Pengembangan Kawasan Realestate
di Surabaya Barat.
( diakses 2014 April 20 ).
LAMPIRAN

Gambar 1. Kawasan Ciputra Group-Surabaya
Barat.

Gambar 2. Kawasan Citraland-Surabaya Barat

Gambar 3. Area ruang hijau terbuka-Citraland

Gambar 4. Area lapangan Golf-Citraland

Gambar 5. Area pertokoan di mall-Citraland
Tidak ada komentar:
Posting Komentar