Translate

Sabtu, 26 April 2014

Makalah Bottle Water Industry


         MK EKONOMI SUMBERDAYA LAHAN (ESL  222 )
STRATEGI FAKTOR PEMILIHAN LOKASI DALAM PEMBANGUNAN CITRALAND, SURABAYA BARAT

    Oleh :
1.      Ika Putri Rahmadani           (H44120037)
2.      Anisa Rumawar S.             (H44120044)
3.      Ronny Josua L.                   (H44120064)
4.      Astrid Damarin Nur A.       (H44120089)
5.      Alifthya Putrie H.               (H44120094)
        
     Dosen : Osmaleli, S.E.

         

                      DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
          FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
      INSTITUT PERTANIAN BOGOR
   2014


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat taufik dan hidayah-Nya sehingga makalah ini yang berjudul “Strategi Faktor Pemilihan Lokasi dalam Pembangunan Citraland, Surabaya Barat” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini berisikan tentang pengetahuan mengenai pemilihan lokasi yang tepat dalam proses pembangunan kegiatan ekonomi serta salah satu developper yang mengembangkan wilayah di Surabaya bagian Barat. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
 Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin

                                                                                                            Bogor, 20 April 2014

                                                                                                                   Penyusun







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Surabaya adalah ibu kota provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta, dengan jumlah penduduk metropolisnya mencapai 4 juta jiwa. Kota Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia di bagian Timur Pulau Jawa.
Surabaya memiliki potensi yang pesat dalam perkembangan wilayahnya. Selain itu, Surabaya juga terdapat pemandangan alam yang dapat di kembangkan menjadi wisata alam. Surabaya juga memiliki  kawasan industri yaitu SIER di daerah rumput yang berkembang cukup pesat. Kegiatan ekonomi lainnya seperti pusat perbelanjaan yang sangat pesat perkembangannya. Salah satu keputusan yang sangat penting dalam kegiatan ekonomi adalah penentuan lokasi kegiatan ekonomi tersebut. Karena lokasi berperan dalam seberapa jauh kegiatan ekonomi tersebut berlangsung. Selain itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi kegiatan ekonomi adalah jumlah penduduk dan akses dengan fasilitas kota.  
Menurut kompas.com Surabaya menempati posisi ke dua dari enam kota, sasaran investasi perusahaan-perusahaan Real Estate besar di Indonesia. Ciputra Group merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha Real Estate. Dengan melihat potensi dari daerah Surabaya, Ciputra berminat menginvestasikan dengan mendirikan kawasan Ciputra World dengan nama Citraland (The Singapore of Surabaya).
Citraland ( The Singapore of Surabaya) adalah sebuah kota yang berkembang begitu pesat dengan luas tidak kurang dari 2000 ha. Citraland adalah sebuah kawasan yang didirikan oleh Ciputra Development atau biasa disebut Ciputra group. Sebelumnya Citraland dikenal sebagai kawasan yang gersang, kering, dan tidak produktif. Kawasan ini terletak di Surabaya bagian Barat dan sekarang Surabaya Barat sudah menjadi kawasan yang cukup pesat di bandingkan dengan kawasan Surabaya lainnya.

1.2  Rumusan Masalah
a.       Apa saja faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi Citraland sebagai penunjang dalam  kegiatan ekonomi di Surabaya Barat ?
b.      Bagaimana kondisi Surabaya setelah adanya pembangunan Kawasan Citraland ?

1.3  Tujuan Penulisan
a.       Untuk mengetahui faktor yang mempengaruh pemilihan lokasi Citraland sebagai penunjang kegiatan ekonomi di Surabaya Barat.
b.      Untuk mengetahui kondisi Surabaya setelah adanya pembangunan Kawasan Citraland.

1.4  Tinjauan Pustaka
Beberapa definisi yang menjelaskan mengenai teori lokasi. Pertama kali yang mengembangkan teori lokasi adalah Von Thunen pada tahun 1880, namun teori lokasi ini diperkenalkan secara utuh oleh Walter Isard pada tahun 1952. Teori lokasi merupakan teori yang dapat digunakan dalam berbagai bidang seperti bidang geografis dan ekonomi namun pada awal perkembangannya teori ini lebih mengarah pada bidang geografi daripada bidang ekonomi. Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha atau kegiatan lain baik ekonomi maupun social (Ibrahim,1998).
Teori lokasi adalah suatu penjelasan teoritis yang dikaitkan dengan tata ruang dari kegiatan ekonomi. Hal ini selalu dikaitkan pula dengan alokasi geografis dari sumberdaya yang terbatas yang pada gilirannya akan berpengaruh dan berdampak terhadap lokasi berbagai aktivitas baik ekonomi maupun sosial (Nitisemito dan Umar,2004).
Dalam penggunaan sumberdaya lahan, terdapat dua sifat intrinsik dari sumberdaya lahan yang pent­ing, yaitu  kualitasnya  dan lokasi.
·         Kualitas Lahan
Kualitas sebidang lahan hanya dapat didefinisikan secara ber­makna dalam hubungannya dengan suatu aktivitas penggunaan tertentu.  Dengan mengambil teladan penggunaan pertanian, kualitas lahan untuk menghasilkan tanaman tergantung kepada faktor-faktor seperti iklim, topografi, tipe tanah, dan kesuburan, semuanya ini mempegaruhi pertumbuhan tana­man dan biaya produksi serta panen.
·         Lokasi lahan
Teori tentang penggunaan lahan semula dikembangkan oleh von Thunen pada pertengahan abad 18, seorang Jerman.  Ia mencatat hasil-hasil dari berbagai jenis tanaman dan melengkapinya dengan upaya-upaya yang terlibat dalam pengangkutan produks ini, oleh kuda dan kereta, ke pasar ataupun pusat kegiatan ekonomi.  Dengan mengasumsikan sebuah kota yang terisolir, yang dikelilingi oleh lahan yang kualitasnya sama, von Thunen berargumentasi bahwa pola-pola konsentris penggunaan lahan akan terjadi.  Lahan di dekat kota akan digunakan digunakan untuk memproduksi tanaman yang hasilnya banyak dan voluminous, seperti kayu dan kentang, sedangkan lahan yang jauh dari pasar akan digunakan untuk memproduksi tanaman ekonomis-tinggi, volumenya kecil, seperti hasil-hasil peternakan.















\

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi  Citraland sebagai penunjang kegiatan ekonomi di Surabaya bagian barat.
Banyak faktor yang berpengaruh dalam pemilihan lokasi suatu usaha real estate yang besar, seperti Citraland yang didirikan oleh Ciputra Development atau biasa disebut Ciputra group. Dahulu Citraland dikenal sebagai kawasan yang gersang, kering, tidak produktif, serta banyak ladang dan rawa kini sudah menjadi kawasan yang cukup pesat di bandingkan dengan kawasan Surabaya lainnya. Faktor – faktor  yang menunjang tersebut antara lain :
a.       Mendekati konsumen potensial
Dalam lokasi pendirian Citraland ini, salah satu aspek yang pelu diperhatikan adalah kebutuhan para konsumen akan suatu sarana dan prasarana yang dapat memenuhi tingkat kesejahteraan dan kenyamanan yang lebih dibandingkan yang lain. 
b.      Tingkat kepadatan penduduk
Setiap tahun tingkat kepadatan penduduk Surabaya terus meningkat. Hal ini ditunjukkan pada data yang diperoleh Badan Pusat Statistik Surabaya yang menyatakan kepadatan penduduk dari tahun 2000 hingga 2010 meningkat dari angka 7.996 menjadi 8.462. Kepadatan penduduk yang meningkat ini mengindikasikan bahwa kebutuhan penduduk akan tempat tinggal semakin meningkat. Hal inilah yang menjadi suatu keuntungan bagi pihak Ciputra Land untuk mendirikan usaha kawasan real estate di Surabaya khususnya bagian barat.
c.       Tingkat ekonomi
Lokasi dengan mayoritas pendapatan penduduk yang berpenghasilan menengah ke atas akan memicu pemenuhan standar hidup yang lebih baik, sehingga membuka peluang penjualan hunian dari perumahan Ciputra Land.
d.      Akses yang mudah
Lokasi usaha yang baik adalah yang mudah dikenali dan mudah diakses.
e.       Tingkat kompetisi
Kawasan Surabaya Barat yang masih sedikit akses pembangunannya menjadikan tingkat kompetisi dalam berbisnis semakin kecil, sehingga peluang untuk menjadikan tempat berbisis semakin terbuka lebar. Jika itu merupakan satu-satunya lokasi yang dimiliki, pastikan produk yang ditawarkan memiliki banyak keunggulan dibanding kompetitor lain.
f.       Akses lalu lintas
Sebuah kawasan real estate yang terdiri dari kawasan perumahan, pertokoan, dan tempat rekreasi sangat membutuhkan akses lalu lintas yang memadai. Dibutuhkan akses jalan yang baik dan terjangkau dengan lokasi usaha. Ciputra Land memiliki hal tersebut dengan memilih lokasi yang memiliki akses West Radial Road  yang dapat mengakses ke berbagai tempat di Surabaya dengan semakin cepat dan mudah, karena pembangunan Radial Road  menghubungkan Inner dan Outer Ring Road. Tentunya kawasan ini akan menjadi kawasan hunian yang sangat strategis.
g.      Legalitas
Dalam pembangunan pun, kelegalitasan kawasan juga sangat penting. Kawasan Citraland yang sudah memperhatikan aspek legal tidak akan berisiko lagi dalam hal perijinan, regulasi kawasan, serta lingkungan sekitar.
h.      Lingkungan sekitar
Selain memperhaikan rencana tata ruang pembangunan Kawasan Citraland, juga harus memerhatikan keadaan lingkungan sekitar. Lokasi tersebut tidak boleh ada kerusakan atau kerugian yang ditimbulkan akibat pembangunan dan haruslah tetap bertanggungjawab terhadap penduduk sekitar.

2.2  Kondisi Surabaya setelah adanya pembangunan Citraland
            Surabaya merupakan kota kedua di Indonesia yang sangat maju pesat pembangunannya, kegiatan ekonomi yang meningkat, serta tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Selama periode awal kemerdekaan hingga awal tahun 1990-an, pembangunan kota Surabaya sangat terkonsentrasi di kawasan tengah/pusat kota. Hal itu mengakibakan kota terasa semakin padat. Aktivitas masyarakat kota semua terkonsentasi ditengah kota. Fasilitas-fasilitas seperti perkantoran, sekolah, pertokoan, dan lain sebagainya semua berpusat di tengah kota. Belum ada pengembangan ke daerah pinggiran kota (daerah-daerah perbatasan) untuk lebih memperluas ruang gerak masyarakat kota dalam beraktivitas. Seperti di wilayah Citraland yang banyak ladang, rawa, sawah yang masih gersang dan kering serta pembangunan rumah yang jarang.  Namun di awal tahun 2000 an, mulai terjadi pengembangan wilayah di daerah pinggiran kota.
Menurut data statistik, harga dasar tanah di Surabaya pada tahun 1989 untuk jenis perumahan paling mahal adalah Rp 655.000,00 dan paling murah Rp. 5.900,00. Seiring dengan semakin banyaknya pengembangan kawasan perumahan,Surabaya Barat kemudian menjadi kawasan yang semakin ramai. Harga jual tanah pun menjadi semakin meningkat. Seperti yang terjadi di tanah daerah pengembangan Citraland.
Kawasan Citraland yang terletak di Surabaya Barat kini mengalami kemajuan perkembangan dengan adanya salah satu developper yang masuk, Ciputra Group yang memperhatikan unsur lokasi yang baik untuk kegiatan ekonomi dan juga meningkatkan unsur lokasi lain yang belum terpenuhi seperti penyediaan fasilitas-fasiltas yang diberikan oleh citraland seperti hunian mewah, apartement, taman hiburan, sekolah, mall-mall, tempat rekreasi, arena golf terbesar dan olahraga, serta fasilitas lainnya. Selain itu juga, Ciputra Group ini memperhatikan aspek lingkungan sekitar dengan menjadikan ruang lingkup yang hijau terbuka dan asri, melakukan program penanaman 1000 pohon dan sistem pembuangan dan pengolahan yang baik.
Sehingga dari itu semua berdampak pada Surabaya Barat menjadi daerah yang paling berkembang di Surabaya dalam 10 tahun terakhir. Pembangunan kawasan dilakukan atas kerjasama pemerintah kota dan pengembang swasta yang didorong oleh kombinasi input yang mendukung seperti modal, infrastruktur, marketing facilities, management skills, stabilitas nasional, dan lokasi pengembangan lahan.  Sekarang kawasan Surabaya Barat menjadi salah satu pusat pemukiman dan perekonomian, taraf hidup masyarakat menjadi semakin lebih baik, serta akses semakin mudah dan cepat.





BAB III
KESIMPULAN

            Dalam menentukan suatu lokasi untuk  lahan industri, pertanian, perternakan maupun perumahan harus melihat beberapa faktor seperti mendekati potensial konsumen, tingkat kepadatan penduduk, tingkat ekonomi, mudahnya akses, tingkat kompetisi,akses lalu lintas, legalitas, lingkungan sekitar, tempat, jumlah usaha, serta zona.
Dalam penentuan faktor lokasi untuk lahan perumahan yang lebih penting dari sekian banyak faktor yang perlu di perhatikan adalah akses yang mudah, tingkat kepadatan penduduk, lingkungan sekitar, serta penghasilan penduduk daerah. Seperti kasus Citraland dalam menentukan lokasinya, pihak Citraland memanfaatkan potensi daerah yang tidak terlalu baik yaitu hanya dengan memanfaatkan akses jalan yang baik ke kota, kepadatan penduduk Surabaya yang nyatanya terbesar kedua di Indonesia, dan keadaan daerah yang gersang serta kering. Walaupun hanya sedikit potensi yang dimiliki daerah tersebut, Citraland dapat mengembangkan daerah tersebut dengan menyediakan potensi-potensi lain yang berguna untuk kegiatan ekonomi lainnya sebangai usaha yang di kembangkan oleh Ciputra Group. Sehingga dengan didirikannya Citraland ini dapat meningkatkan perkembangan untuk industri-industri lain dalam membuka usaha di daerah tersebut.











DAFTAR PUSTAKA

Fikriyah. 2013. Pengembangan Kawasan Realestate di Surabaya Barat.
               http://id.scribd.com/doc/160154963  ( diakses 2014 April 20 ).
[Anonim].  2014. Info Surabaya.  https://www.uc.ac.id/  ( diakses 2014 April 20 ).
[Anonim].  2014.  Kawasan Citraland Surabaya Barat. http://www.citralandsurabaya.com/
               ( diakses 2014 April 20 ).















LAMPIRAN

Gambar 1. Kawasan Ciputra Group-Surabaya Barat.

Gambar 2. Kawasan Citraland-Surabaya Barat
Gambar 3. Area ruang hijau terbuka-Citraland
Gambar 4. Area lapangan Golf-Citraland
Gambar 5. Area pertokoan di mall-Citraland



Tidak ada komentar:

Posting Komentar