♥ Inilah Pertanianku ♥
Di
era sekarang ini, yang mana pembangunan semakin merajalela, kemajuan kian
tumbuh pesat, namun pada sector pertanian, suram adanya. Kalah saing ! Keterbelakangan ! Padahal pertumbuhan di Indonesia
semakin hari semakin membludak, tak imbangi dengan kebutuhan di bidang
pangannya.
Setiap
tahun, setiap akhir panen, banyak keluhan petani akibat turunnya harga panen.
Hasil yang didapat dari awal usaha tak sebanding dengan hasil akhirnya. Banyak
yang merasa tidak puas, kena rugi, hingga hampir putus asa dan ingin alih kerja
saja.
Kalau
keadaan terus menerus begini, bagaimana
nasib pangan dalam negeri kita ??? Secepatnya… mau tak mau, memang harus diselesaikan…
Menoleh
cerita lama, banyak produk pertanian kita yang kalah bersaing dengan produk
impor. Apa masalahnya coba ?? Inilah… kelangkaan bibit, kesulitan
memperoleh pupuk, pertanian yang rentan terhadap hama, berfluktuasinya harga
obat-obatan anti hama, hama-hama baru yang semakin menyerang pertanian , serta
anjloknya harga gabah dan beras. Sungguh… masalah sehari-hari yang tak pernah
terlewatkan. Ini menjadikan kondisi pertanian, semakin rapuh dan tidak
mempunyai daya pikat. Pertanian akan semakin ditinggalkan. Berbagai permasalah
ini akan membuat pertanian menuju kematian secara perlahan.
Ada
apa dengan Indonesia ??
Negara
yang pernah berswasembada beras. Menjadi pengimpor beras terbesar di dunia.
Susah payah membangun swasembada beras, tapi tiba-tiba runtuh. Bahkan di tahun
anggaran 1998/1999, Indonesia menjadi
pengimpor beras terbesar di dunia. Waktu itu, Indonesia mengimpor beras
sebanyak 4,8 juta ton. Namun, sampai kini Indonesia menjadi pembeli beras
terbanyak di dunia. Sebanyak 10% dari beras yang diperdagangkan di dunia masuk
dalam pasar produk pertanian dalam negeri. Bila ketergantungan pada impor beras
ini terus naik, maka Indonesia akan terus menjadi pengimpor beras terbanyak
selamanya. Wooww…. dan inilah petaka
pertanian dari sebuah negara agraris yang kebanyakan tenaga kerjanya
berkecimpung pada sektor ini, tetapi tidak sanggup memenuhi kebutuhan paling
mendasar dan harus bergantung pada negara.
Lalu, kenapa Indonesia hampir setiap tahun selalu menghadapi persoalan
berulang dengan produksi pangan. Utamanya yaitu beras ?? Bagaimana hal
seperti ini bisa terjadi ??
Salah
satu penyebabnya adalah kebijakan
pemerintah dalam bidang pertanian yang kadang masih setengah hati. Keberbihakan
telah dicanangkan bahkan dijadikan program nasional, tetapi pelaksanaan dan
kondisi nyata belum beranjak dari persoalan-persoalan mendasar pertanian kita.
Di negeri ini, kebijakan pertanian begitu kompleks, rumit, dan sarat
kepentingan berbagai pihak dari petani, pejabat, perusahaan besar, sampai para
pemburu rente. Mereka yang terlalu ribet dengan urusannya masing-masing,
dan memburu keuntungan paling tinggi.
Karena ruwetnya
kebijakan pertanian di negeri ini, kita hampir tiap tahun mengalami kenaikan
harga beras, kelangkaan pupuk di pasaran, anjlognya harga gabah, dan persoalan
lain yang merugikan masyarakat. Seperti di akhir 2006, harga beras melonjak
lebih dari 30%. Memahami kenaikan harga beras sesungguhnya tidak terlalu rumit.
Kejadian ini sudah berulangkali dan seperti telah menjadi ritual tahunan.
Apakah harga beras yang
mahal berarti juga peningkatan kesejahteraan petani ??
Dan
alhasil, ternyata tidak ! Jika
sekarang kita merasakan harga beras yang mahal, ternyata kenaikan harga beras
itu tidak dinikmati oleh petani. Mereka tetap saja membeli beras dengan harga
mahal, karena hasil pertanian mereka telanjur dijual dengan harga murah. Harga
jual gabah di tingkat petani belum mampu mengangkat taraf hidup petani.
Kenaikan harga jual gabah tidak seimbang dengan laju inflasi dan selalu
tertinggal jauh dari kenaikan barang konsumsi selain pertanian.
Bagaimana mencari jalan keluar ??
Penyelesaian persoalan pertanian
juga bergantung pada sektor-sektor yang lain. Pertanian sendiri tidak akan
pernah mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri. Perlu keterpaduan berbagai
sektoral untuk mengatasi persoalan karena saling berkaitan. Sektor
perindustrian dan perdagangan akan memainkan peran penting. Kebijakan
diversifikasi pangan terkait pengolahan pangan. Penganekaragaman pangan harus
dimulai dengan serius dengan melakukan tindakan nyata untuk menggali kembali
bahan pangan local, terutama umbi-umbian yang tersedia melimpah.
Perlu
dikampanyekan dengan sistematis sebagai substitusi beras sampai tataran
tertentu. Persoalan akses petani terhadap lahan juga menjadi isu yang sangat
serius. Dalam transformasi struktur penciptaan industri pedesaan melalui
pengolahan bahan pangan local, nampaknya akan membuka lapangan kerja baru baik
dalam hal produksi, pengolahan, maupun distribusi dan pemasarannya. Pertanian
yang sehat dan produktif seyogyanya memiliki luasan yang cukup.
Secara tidak langsung ini juga memberikan kesempatan sebagian petani untuk mengelola lahan dengan skala ekonomi baik melalui sistem persewaan maupun bagi hasil sehingga diharapkan produktivitasnya meningkat nyata.
Penelitian
dan pengembangan teknologi serta penyuluhan pertanian baik skala nasional,
regional, dan lokal menjadi sangat penting. Penelitian yang serius tentang
benih-benih baru dengan produktivitas tinggi melalui pendekatan bioteknologi
juga menjadi solusi yang cukup baik. Saat ini petani semakin sulit memperolah
benih yang berkualitas karena umumnya diproduksi oleh perusahaan multinasional
yang profit, sehingga harganya menjadi sangat mahal. Lembaga penelitian dan
perguruan tinggi sebagai penyedia public goods perlu didukung penuh sehingga
mampu menghasilkan teknologi dan inovasi alternatif yang bisa diakses secara
murah oleh public utamanya petani-petani kecil di pedesaan.
Pembangunan infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi, jalan desa, pasar desa, dan lain-lain menjadi vital untuk menggairahkan petani. Jika berbagai kebijakan dapat berjalan dengan baik dan mampu memberikan insentif bagi petani maka harapan dan optimisme keberhasilan pembangunan pertanian akan semakin nyata. Keberpihakan dan waktu yang akan membuktikan apakah pertanian kita akan bangkit atau justru akan semakin terkubur….!
Pembangunan infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi, jalan desa, pasar desa, dan lain-lain menjadi vital untuk menggairahkan petani. Jika berbagai kebijakan dapat berjalan dengan baik dan mampu memberikan insentif bagi petani maka harapan dan optimisme keberhasilan pembangunan pertanian akan semakin nyata. Keberpihakan dan waktu yang akan membuktikan apakah pertanian kita akan bangkit atau justru akan semakin terkubur….!
Ika putri rahmadani / H44120037
Tidak ada komentar:
Posting Komentar