Translate

Sabtu, 26 April 2014

♥ Inilah Pertanianku ♥

♥ Inilah Pertanianku ♥
Di era sekarang ini, yang mana pembangunan semakin merajalela, kemajuan kian tumbuh pesat, namun pada sector pertanian, suram adanya. Kalah saing ! Keterbelakangan ! Padahal pertumbuhan di Indonesia semakin hari semakin membludak, tak imbangi dengan kebutuhan di bidang pangannya.
Setiap tahun, setiap akhir panen, banyak keluhan petani akibat turunnya harga panen. Hasil yang didapat dari awal usaha tak sebanding dengan hasil akhirnya. Banyak yang merasa tidak puas, kena rugi, hingga hampir putus asa dan ingin alih kerja saja.
Kalau keadaan terus menerus begini, bagaimana nasib pangan dalam negeri kita ??? Secepatnya… mau tak mau, memang harus diselesaikan…
Menoleh cerita lama, banyak produk pertanian kita yang kalah bersaing dengan produk impor. Apa masalahnya coba ??  Inilah… kelangkaan bibit, kesulitan memperoleh pupuk, pertanian yang rentan terhadap hama, berfluktuasinya harga obat-obatan anti hama, hama-hama baru yang semakin menyerang pertanian , serta anjloknya harga gabah dan beras. Sungguh… masalah sehari-hari yang tak pernah terlewatkan. Ini menjadikan kondisi pertanian, semakin rapuh dan tidak mempunyai daya pikat. Pertanian akan semakin ditinggalkan. Berbagai permasalah ini akan membuat pertanian menuju kematian secara perlahan.
Ada apa dengan Indonesia ??
Negara yang pernah berswasembada beras. Menjadi pengimpor beras terbesar di dunia. Susah payah membangun swasembada beras, tapi tiba-tiba runtuh. Bahkan di tahun anggaran 1998/1999, Indonesia menjadi pengimpor beras terbesar di dunia. Waktu itu, Indonesia mengimpor beras sebanyak 4,8 juta ton. Namun, sampai kini Indonesia menjadi pembeli beras terbanyak di dunia. Sebanyak 10% dari beras yang diperdagangkan di dunia masuk dalam pasar produk pertanian dalam negeri. Bila ketergantungan pada impor beras ini terus naik, maka Indonesia akan terus menjadi pengimpor beras terbanyak selamanya. Wooww…. dan inilah petaka pertanian dari sebuah negara agraris yang kebanyakan tenaga kerjanya berkecimpung pada sektor ini, tetapi tidak sanggup memenuhi kebutuhan paling mendasar dan harus bergantung pada negara.
Lalu, kenapa Indonesia hampir setiap tahun selalu menghadapi persoalan berulang dengan produksi pangan. Utamanya yaitu beras ?? Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi ??
Salah satu penyebabnya  adalah kebijakan pemerintah dalam bidang pertanian yang kadang masih setengah hati. Keberbihakan telah dicanangkan bahkan dijadikan program nasional, tetapi pelaksanaan dan kondisi nyata belum beranjak dari persoalan-persoalan mendasar pertanian kita. Di negeri ini, kebijakan pertanian begitu kompleks, rumit, dan sarat kepentingan berbagai pihak dari petani, pejabat, perusahaan besar, sampai para pemburu rente. Mereka yang terlalu ribet dengan urusannya masing-masing, dan memburu keuntungan paling tinggi.
Karena ruwetnya kebijakan pertanian di negeri ini, kita hampir tiap tahun mengalami kenaikan harga beras, kelangkaan pupuk di pasaran, anjlognya harga gabah, dan persoalan lain yang merugikan masyarakat. Seperti di akhir 2006, harga beras melonjak lebih dari 30%. Memahami kenaikan harga beras sesungguhnya tidak terlalu rumit. Kejadian ini sudah berulangkali dan seperti telah menjadi ritual tahunan.
Apakah harga beras yang mahal berarti juga peningkatan kesejahteraan petani ??
Dan alhasil, ternyata tidak ! Jika sekarang kita merasakan harga beras yang mahal, ternyata kenaikan harga beras itu tidak dinikmati oleh petani. Mereka tetap saja membeli beras dengan harga mahal, karena hasil pertanian mereka telanjur dijual dengan harga murah. Harga jual gabah di tingkat petani belum mampu mengangkat taraf hidup petani. Kenaikan harga jual gabah tidak seimbang dengan laju inflasi dan selalu tertinggal jauh dari kenaikan barang konsumsi selain pertanian.
Bagaimana mencari jalan keluar ??
Penyelesaian persoalan pertanian juga bergantung pada sektor-sektor yang lain. Pertanian sendiri tidak akan pernah mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri. Perlu keterpaduan berbagai sektoral untuk mengatasi persoalan karena saling berkaitan. Sektor perindustrian dan perdagangan akan memainkan peran penting. Kebijakan diversifikasi pangan terkait pengolahan pangan. Penganekaragaman pangan harus dimulai dengan serius dengan melakukan tindakan nyata untuk menggali kembali bahan pangan local, terutama umbi-umbian yang tersedia melimpah.

Perlu dikampanyekan dengan sistematis sebagai substitusi beras sampai tataran tertentu. Persoalan akses petani terhadap lahan juga menjadi isu yang sangat serius. Dalam transformasi struktur penciptaan industri pedesaan melalui pengolahan bahan pangan local, nampaknya akan membuka lapangan kerja baru baik dalam hal produksi, pengolahan, maupun distribusi dan pemasarannya. Pertanian yang sehat dan produktif seyogyanya memiliki luasan yang cukup.

Secara tidak langsung ini juga memberikan kesempatan sebagian petani untuk mengelola lahan dengan skala ekonomi baik melalui sistem persewaan maupun bagi hasil sehingga diharapkan produktivitasnya meningkat nyata.

Penelitian dan pengembangan teknologi serta penyuluhan pertanian baik skala nasional, regional, dan lokal menjadi sangat penting. Penelitian yang serius tentang benih-benih baru dengan produktivitas tinggi melalui pendekatan bioteknologi juga menjadi solusi yang cukup baik. Saat ini petani semakin sulit memperolah benih yang berkualitas karena umumnya diproduksi oleh perusahaan multinasional yang profit, sehingga harganya menjadi sangat mahal. Lembaga penelitian dan perguruan tinggi sebagai penyedia public goods perlu didukung penuh sehingga mampu menghasilkan teknologi dan inovasi alternatif yang bisa diakses secara murah oleh public utamanya petani-petani kecil di pedesaan.

Pembangunan infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi, jalan desa, pasar desa, dan lain-lain menjadi vital untuk menggairahkan petani. Jika berbagai kebijakan dapat berjalan dengan baik dan mampu memberikan insentif bagi petani maka harapan dan optimisme keberhasilan pembangunan pertanian akan semakin nyata. Keberpihakan dan waktu yang akan membuktikan apakah pertanian kita akan bangkit atau justru akan semakin terkubur….!

Ika putri rahmadani / H44120037


Tidak ada komentar:

Posting Komentar