MK Sosiologi Umum (KPM 130)
Hari, Tanggal : Selasa, 6 November 2012
Praktikum ke - 5 Ruang : RK CCR 1.06
SISTEM PONDOK
Oleh: Wariso Ram
Disusun oleh :
Ika Putri
Rahmadani (H44120037)
Asisten :
Kasfy Allama (I34100107)
Sebagian besar
migran sirkuler berasal dari rumah tangga desa yang hanya mempunyai lahan
sempit dalam keadaan ekonomi tidak mampu dan rata-rata berpendidikan rendah. Umumnya
mereka dalam keadaan ketidak cukupan sehingga keadaan ini yang membuat mereka
membuat usaha mandiri secara kecil-kecilan. Dengan modal awal yang terbatas
mereka mempunyai modal besar dalam hal pemasaran hasil dan pengalaman karena
pernah menjadi karyawan dalam perusahaan tertentu. Mereka mengimbangi
keterbatasan yang ada dengan asas kerukunan atau kegotongroyongan. Usaha sisa
terdiri dari berbagai macam jenis dan bersifat padat karya. Untuk itu
diperlukan keterampilan dalam
pengelolaan hubungan antar manusianya dan menjadikan azas kerukunan atau azas
kekeluargaan menjadi sendi utama.
Berdasarkan
besarnya sumbangan tenaga kerja migran sirkuler sistem pondok digolongkan
menjadi 4, antara lain :
1. Sistem pondok
gotong royong
Dalam sistem
ini, setiap orang menjadi anggota kelompok dan mempunyai hak dan kewajiban yang
sama. Hubungan antara anggota dilandasi oleh azas kekeluargaan yang cukup kuat.
Tidak dikenal majikan, bos, tauke, ataupun karyawan.
2. Sistem pondok
rumah tangga
Sistem yang menggunakan tenaga sirkuler
dari desa yang “jauh”. Antara pemilik pondok boro dan pembantunya terdapat
hubungan berlandaskan asas kekeluargaan. Belum ada pembagian tugas membuat
barang dan menjual hasil, belum menggunakan teknologi dalam proses
produksi dan ada keharusan hasil produksi
terjual pada hari yang sama untuk keuntungan yang lebih besar.
3. Sistem pondok
usaha perorangan
Sistem ini sudah membagi tenaga produksi
dan tenaga pemasar. Pemilik mengelola proses produksi dan juga pemasaran. Akan
tetapi hubungan majikan dan karyawan lebih erat dari pada hubungan majikan
dengan penjual. Sistem ini sudah menggunakan teknologi terdapat sejumlah
karyawan dan puluhan penjual.
4. Sistem pondok
sewa
Sistem ini
pemilik tidak terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan pemasaran,
melainkan hanya menyewakan tempat dan peralatan produksi. Hubungan antara
majikan dan karyawan agak renggang dan kurang jelas sifat kekeluaragaannya.
Selain itu,
ada juga sistem pondok yang hanya menampung para penjual saja. Dilihat dari
jenis kegiatan yang dilakukan penghuninya, pondok boro dapat dibedakan menjadi
3 macam yaitu : pondok boro buruh (pengemudi
becak), pondok boro penjual (penjual
kerajinan dan sayur), pondok boro produksi (produksi tahu dan kerupuk).
2.
Analisis Bacaan
Dasar kepentingan bersama. Karena para migran sirkuler ini berasal dari keadaan ketidakcukupan,
maka mereka mendirikan usaha mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
a. Sistem pondok ini menganut sistem kategori
sosial karena mereka memiliki lapangan kerja yang sama.
b. Sistem pondok gotong royong dan rumah tangga termasuk grup primer karena
terjadi interaksi langsung antar anggotanya, sedangkan sisanya termasuk grup
sekunder, terutama pada sistem pondok sewa karena pemilik
tidak terlibat langsung dalam proses produksi.
c. Sistem pondok termasuk in grup, karena
perasaan persatuan diantara mereka cukup kuat.
d. Sistem pondok termasuk membership group, karena pada sistem pondok tertentu telah ditentukan batasan jumlah
anggota kelompok.
e. Sistem pondok termasuk informal grup karena tidak ada
aturan-aturan tertulis dan hukum yang dipakai untuk mengatur anggotanya. Migran sirkuler ini tidak memakai aturan yang tertulis karena telah
terdapat rasa saling percaya antar anggota kelompok.
a. Sistem pondok gotong royong : kuat, karena dilandasi dengan azas kegotongroyongan atau kekeluargaan
yang cukup kuat.
b. Sistem pondok rumah tangga : kuat, karena dilandasi dengan azas kekeluargaan.
c. Sistem pondok usaha perseorangan : Hubungan antara majikan dengan karyawan lebih erat daripada dengan
penjual. Tetapi majikan selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan
penjual, karena mereka saling membutuhkan.
d. Sistem pondok sewa: renggang, karena
hubungan pemilik pondok boro dengan para migran sirkuler hanya sebatas
sewa-menyewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar