MK Sosiologi Umum (KPM
130) Hari/Tanggal
: Senin, 24 September 2012
Praktikum ke-2 Ruang : RK CCR 1.06
STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOKELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri
Oleh : Sunyoto
Usman
TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh :
Muhammad Syaifullah
Disusun oleh :
Ika Putri
Rahmadani (H44120037)
Asisten :
Kasfy Allama (I34100107)
Luphita
Angelie (I34100153)
Ikhtisar 1
Dalam Sosiologi,
kata elit lebih didefinisikan sebagai anggota kelompok minoritas dalam
masyarakat yang tergolong disegani, dihormati, kaya, serta berkuasa yang
posisinya berada pada puncak strata,
serta memiliki kemampuan mengendalikan aktivitas perekonomian dan sangat
dominan mempengaruhi proses pengambilan keputusan.Di pedesaan yang termasuk
kelompok elit adalah pamong desa,
pengurus lembaga sosial, petani kaya, guru desa, atau para pegawai negeri yang
mungkin bekerjanya di daerah lain.
Sebagai
contoh, penelitian yang dilakukan di tiga desa santri, Kabupaten Jombang, Jawa
Timur. Yang bertujuan untuk mengidentifikasi stuktur interaksi elit dalam
mengakomodasi proyek pembangunan pedesaan dan mengetahui kelompok elit mana
yang paling dominan dan berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Alasan memilih
desa ini karena banyak anggota masyarakatnya yang menjadi pengikut thoriqot
Qodiriyah-Naqsabandiyah berbasis Nahdlatul Ulama serta memiliki daya dukung
yang kuat terhadap ketahanan organisasi sosial politik islam. Ada tiga macam
pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi kelompok elit ini, yaitu
positional approach, reputational approach, dan decisional approach.Banyak
permasalahan yang muncul disini lalu dikaji dan menghasilkan kesimpulan bahwa
peranan pamong desa lebih dominan daripada elit yang lain. Hal ini terjadi
karena pamong desa banyak yang menempati jabatan formal, dapat menjalin hubungan langsung dan berinteraksi
dengan kawan-kawannya, memiliki angka tinggi dalam koneksi maupun integrasi,
berkesempatan lebih luas dalam mengembangkan kiprah, ide-ide baru yang lebih
efektif dan efisien, dapat menjembatani hubungan pemerintah dengan masyarakat,
serta berpengaruh dalam pengambilan suatu keputusan.Jadi sekarang sudah saatnya
di desa itu mengupayakan agar semua pean dari kelompok elit dapat saling
membantu dan menjalin hubungan yang lebih erat dalam kegiatan pembangunan.
Interaksi antara mereka perlu diubah dari yang biasa hanya dilakukan untuk
menjawab kepentingan masing-masing ke arah hubungan yang koordinatif untuk
mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Ikhtisar II
Menanggapi
persoalan TN Kutai yang semakin menjadi, diadakannya pertemuan antara jagawana Ade
Suharso, Kepala Seksi Konservasi TN Kutai wilayah Tanjung Limau dengan
masyarakat Dusun Kandolo. Disini masyarakat diajak untuk menjaga hutan dengan
tidak terus menebangi hingga habis, bukannya memperluas lahan dan mendirikan
permukiman dihutan tersebut. Namun masyarakat pun memberikan alasan untuk mengelak
dari ajakan itu. Mereka terpaksa membuka lahan guna mempertahankan hidup
(membuat kayu arang) karena kondisi alam.
Banyak
perlawanan yang meraka lakukan, seperti menghadang serta mengancam akan
membakar kendaraan mobil mereka. Ketegangan ini akibat dari putusnya komunikasi
antara kedua belah pihak. Tingkah masyarakat pun semakin menjadi, seperti
aktivitas perkebunan rakyat secara besar-besaran, maraknya penebangan dan pengangkutan
kayu, pengkaplingan lahan, pembagian lahan, penjualan lahan, penguasaan tanah, serta pengaspalan jalan. Persoalan ini sudah
tidak dapat dilihat secara parsial lagi. Kondisi ini sebagai akumulasi
persoalan sejak awal kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi serta tiadasinkronisasi
kebijakan antara pemerintah pusat, Pemda Kaltim, dan Pemda Kutai. Keadaan ini membuat
hubungan antara jagawana dengan masyarakat menjadi ada jarak, bahkan tidak
jarang saling tejadi berbenturan kepentingan.
Analisis I
No
|
Bentuk Interaksi
Asosiatf
|
Antar Individu
|
Individu -
Kelompok
|
Kelompok-Kelompok
|
1
|
Kerjasama
|
· Kerjasama
antara pamong desa yang satu dengan yang lain serta dengan para eit lainnya
· Tokoh
masyarakat dengan pemuka agama
|
· Karena ada
kyai terkait thorikot Qodiriyah-Naqsabandiyah yang menjadi anggota Golkar
maka pengikutnya pun mengikuti pimpinannya
|
· PPL bekerja
sama dengan para ketua kelompok tani supra-insus
· Pemerintah
pusat bekerjasama dengan anggota masyarakat dalam perencanaan, organisasi,
pengawasan, dan alokasi dana pembangunan.
|
2
|
Akomodasi
|
· Dalam
tradisi thoriot tedapat keharusan bagi pengikut untuk taat kepada guru
|
-
|
· Kelompok
elit menjadi penghubung antara pemerintah dengan masyarakat
· Kelompok
elit berpengaruh dan dominan dalam pengambilan keputusan
· Tidak ada
salah paham atau pertikaian yang terjadi dalam pengambilan proyek
|
3
|
Asimilasi
|
· Perubahan Interaksi
antar kaum elit pedesaan yang tadinya hanya untuk menjawab kepentingan
masing-masing
|
· Anggota
masyarakat menjadi pengikut thriqot Qodiriyah-Naqsabandiyah
|
No
|
Bentuk Interaksi Disosiatif
|
Antar Individu
|
Individu-Kelompok
|
Kelompok-kelompok
|
1
|
Persaingan
|
· Petugas jagawana
saling berselisih dengan masyarakat untuk menjaga hutan
· Antar
inividu bersaing untuk menguasai lahan di sekitarnya
|
-
|
· Kelompok
pendatang ingin membeli lahan di kawasan hutan, sedangkan masyarakat yang
disana ingin mempertahankan lahannya dan ingin membuka lahan baru
|
2
|
Kontravensi
|
-
|
· Manap,
Kepala Dusun Kandolo berdebat dengan para petugas jagawana untuk tetap
berusaha membuka lahan
|
· Minimnya
masyarakat yang diperhatikan pemerintah, menjadikan mereka mencari cara untuk
hidup
|
3
|
Konflik
|
-
|
-
|
· Petugas
jagawana dihadang puuhan masa dan diancam mobil mereka akan dibakar
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar