Translate

Kamis, 08 November 2012

analisis sosum - STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOKELIT DALAM PEMBANGUNAN Penelitian di Tiga Desa Santri Oleh : Sunyoto Usman TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI Oleh : Muhammad Syaifullah


MK Sosiologi Umum  (KPM  130)                        Hari/Tanggal : Senin, 24 September 2012
Praktikum ke-2                                                 Ruang   : RK CCR 1.06

STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOKELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri
Oleh : Sunyoto Usman
TOLONG BANTU PERBAIKI  PERTANIAN KAMI
Oleh : Muhammad Syaifullah
Disusun oleh :
Ika Putri Rahmadani (H44120037)
Asisten : Kasfy Allama (I34100107)
Luphita Angelie (I34100153)
Ikhtisar 1
Dalam Sosiologi, kata elit lebih didefinisikan sebagai anggota kelompok minoritas dalam masyarakat yang tergolong disegani, dihormati, kaya, serta berkuasa yang posisinya berada pada puncak strata,  serta memiliki kemampuan mengendalikan aktivitas perekonomian dan sangat dominan mempengaruhi proses pengambilan keputusan.Di pedesaan yang termasuk kelompok elit adalah  pamong desa, pengurus lembaga sosial, petani kaya, guru desa, atau para pegawai negeri yang mungkin bekerjanya di daerah lain.
Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan di tiga desa santri, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Yang bertujuan untuk mengidentifikasi stuktur interaksi elit dalam mengakomodasi proyek pembangunan pedesaan dan mengetahui kelompok elit mana yang paling dominan dan berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Alasan memilih desa ini karena banyak anggota masyarakatnya yang menjadi pengikut thoriqot Qodiriyah-Naqsabandiyah berbasis Nahdlatul Ulama serta memiliki daya dukung yang kuat terhadap ketahanan organisasi sosial politik islam. Ada tiga macam pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi kelompok elit ini, yaitu positional approach, reputational approach, dan decisional approach.Banyak permasalahan yang muncul disini lalu dikaji dan menghasilkan kesimpulan bahwa peranan pamong desa lebih dominan daripada elit yang lain. Hal ini terjadi karena pamong desa banyak yang menempati jabatan formal, dapat  menjalin hubungan langsung dan berinteraksi dengan kawan-kawannya, memiliki angka tinggi dalam koneksi maupun integrasi, berkesempatan lebih luas dalam mengembangkan kiprah, ide-ide baru yang lebih efektif dan efisien, dapat menjembatani hubungan pemerintah dengan masyarakat, serta berpengaruh dalam pengambilan suatu keputusan.Jadi sekarang sudah saatnya di desa itu mengupayakan agar semua pean dari kelompok elit dapat saling membantu dan menjalin hubungan yang lebih erat dalam kegiatan pembangunan. Interaksi antara mereka perlu diubah dari yang biasa hanya dilakukan untuk menjawab kepentingan masing-masing ke arah hubungan yang koordinatif untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Ikhtisar II
Menanggapi persoalan TN Kutai yang semakin menjadi, diadakannya pertemuan antara jagawana Ade Suharso, Kepala Seksi Konservasi TN Kutai wilayah Tanjung Limau dengan masyarakat Dusun Kandolo. Disini masyarakat diajak untuk menjaga hutan dengan tidak terus menebangi hingga habis, bukannya memperluas lahan dan mendirikan permukiman dihutan tersebut. Namun masyarakat pun memberikan alasan untuk mengelak dari ajakan itu. Mereka terpaksa membuka lahan guna mempertahankan hidup (membuat kayu arang) karena kondisi alam.
Banyak perlawanan yang meraka lakukan, seperti menghadang serta mengancam akan membakar kendaraan mobil mereka. Ketegangan ini akibat dari putusnya komunikasi antara kedua belah pihak. Tingkah masyarakat pun semakin menjadi, seperti aktivitas perkebunan rakyat secara besar-besaran, maraknya penebangan dan pengangkutan kayu, pengkaplingan lahan, pembagian lahan, penjualan lahan, penguasaan tanah,  serta pengaspalan jalan. Persoalan ini sudah tidak dapat dilihat secara parsial lagi. Kondisi ini sebagai akumulasi persoalan sejak awal kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi serta tiadasinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat, Pemda Kaltim, dan Pemda Kutai. Keadaan ini membuat hubungan antara jagawana dengan masyarakat menjadi ada jarak, bahkan tidak jarang saling tejadi berbenturan kepentingan.

Analisis I
No
Bentuk Interaksi
Asosiatf
Antar Individu
Individu -  Kelompok
Kelompok-Kelompok
1
Kerjasama
·       Kerjasama antara pamong desa yang satu dengan yang lain serta dengan para eit lainnya
·       Tokoh masyarakat dengan pemuka agama

·      Karena ada kyai terkait thorikot Qodiriyah-Naqsabandiyah yang menjadi anggota Golkar maka pengikutnya pun mengikuti pimpinannya
·      PPL bekerja sama dengan para ketua kelompok tani supra-insus
·      Pemerintah pusat bekerjasama dengan anggota masyarakat dalam perencanaan, organisasi, pengawasan, dan alokasi dana pembangunan.
2
Akomodasi
·      Dalam tradisi thoriot tedapat keharusan bagi pengikut untuk taat kepada guru
-
·      Kelompok elit menjadi penghubung antara pemerintah dengan masyarakat
·      Kelompok elit berpengaruh dan dominan dalam pengambilan keputusan
·      Tidak ada salah paham atau pertikaian yang terjadi dalam pengambilan proyek
3
Asimilasi
·      Perubahan Interaksi antar kaum elit pedesaan yang tadinya hanya untuk menjawab kepentingan masing-masing

·      Anggota masyarakat menjadi pengikut thriqot Qodiriyah-Naqsabandiyah
·      Antar kelompok elit yang berbeda mengambil inisiatif dalam membuat suatu keputusan


No
Bentuk Interaksi Disosiatif
Antar Individu
Individu-Kelompok
Kelompok-kelompok
1
Persaingan
·      Petugas jagawana saling berselisih dengan masyarakat untuk menjaga hutan
·      Antar inividu bersaing untuk menguasai lahan di sekitarnya
-
·      Kelompok pendatang ingin membeli lahan di kawasan hutan, sedangkan masyarakat yang disana ingin mempertahankan lahannya dan ingin membuka lahan baru
2
Kontravensi
-
·      Manap, Kepala Dusun Kandolo berdebat dengan para petugas jagawana untuk tetap berusaha membuka lahan
·      Minimnya masyarakat yang diperhatikan pemerintah, menjadikan mereka mencari cara untuk hidup
3
Konflik
-
-
·      Petugas jagawana dihadang puuhan masa dan diancam mobil mereka akan dibakar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar